Pages

Monday, 23 January 2017

Gue, Kudanil, Persahabatan dan Romantisme

Grampians, Pertengahan Desember 2016

Photo by: Rosie Hardi (Romance Isn't Dead - 2008)
Banyak orang yang bilang kalau hal terbaik dalam sebuah hubungan percintaan itu adalah saat bisa menjadi sahabat dengan pasangan kita sendiri. Saat bersama sahabat, kita merasa nyaman menjadi diri kita sendiri, merasa nggak perlu lagi menutupi segala kekurangan diri, nggak ada lagi rahasia dan jaim-jaiman, karena kita yakin dia akan (atau bahkan telah) menerima diri kita apa adanya. Namun bagai pisau bermata dua, persahabatan bisa menjadi salah satu bahaya laten dalam sebuah hubungan karena disadari atau tidak, ia bisa membunuh romantisme.

Gue benar-benar merasakan efek pisau bermata dua tersebut dalam hubungan gue bersama Kudanil. Baru 2 bulan pacaran,  gue ngerasa kalau fase romantis di antara kami terlalu cepat berlalu memudar. Kadang (atau bahkan sering) kami ngerasa kalau hubungan kami ini lebih cocok disebut dengan ‘Friends with Benefits’.

Di masa PDKT dan awal pacaran, sama seperti kebanyakan orang pada umumnya, gue sadar dan peduli banget penampilan.  Dulu tiap kali pengen ketemu sama Kudanil, gue heboh nyobain baju seisi lemari, ribet nge-mix&match. Nyoba kaos ini, dress itu, sambil mikir doi bakal suka nggak ya. Lha sekarang gue dah cuek bebek dalam berpakaian. Udah kagak ada malu-malunya gue pakai celana dengan tambalan tape merah untuk nutupin bolong di bagian pantat.  Terus gue benci saat lipatan di perut gue udah nggak santai, lha sekarang perut balapan sama tetek pun gue nyaris nggak peduli. Selain penampilan, seharusnya kelakuan pun dikontrol sebaik mungkin. Harus sopan. Harus santun. Harus jaim! Lha sekarang, kagak ada lagi lemah lembutnya gue. Ketawa pun ngakak. Bahkan, saking kagak ada jaim-jaimnya, sendawa dan kentut di dekat satu sama lain sudah menjadi hal yang sering kami lakukan. 

Kendali terhadap mood dan emosi pun berubah. Dulu gue selalu berusaha mati-matian ngontrol emosi dan mood gue. Sekarang mah sababodo teuing. Secara mood swing gue parah banget, ya udah kalau gue lagi BT ya BT, kalau tiba-tiba sedih tanpa alasan, ya udah sedih aja. Kalau lagi sedih tanpa alasan pasti gue narik diri, mojok sendirian dan cenderung nyuekin dia. All I want is to be ALONE. Dia merasa tersakiti dengan hal tersebut karena ignorance is the thing he hate most. But I swear, I never mean to hurt him by doing that. I just simply couldn’t handle the my emotions.

Terus yaaaa, dulu gue selalu tersipu malu, meleleh klepek-klepek tiap kali si Kudanil ngerayu atau memuji gue seberapapun cheesy kata-kata yang dia pakai. Lha sekarang, gue cenderung menganggap setiap pujian yg terlontar dari mulut doi gue adalah gombal. Apalagi tiap kali gue turun climbing dan doi bilang, “Oh… you look like an angel coming from heaven.” Dia suka BT karena gue nggak bisa ngebedain mana pujian tulus mana yang gombal, abisan semuanya selalu gue tanggapi dengan lebay, “Ouuuuuuuuuuuuu (yang terdengar sangat menyebalkan di kuping doi) I am so melted/honored to hear that.” Sampai-sampai teman gue Ridlo (yang juga merupakan host kami selama singgah di Adelaide) berkomentar, “Poor Daniel for having to deal with your sarcastic comments and dramatic behaviour.” Bercanda dan ledek-ledekan (poking and teasing) sudah jadi panganan sehari-hari. Kadang sampai keterlaluan dan bikin berantem.

Hal yang nggak kalah penting lainnya dalah, saat udah sahabatan, kita jadi saling bocor cerita tentang semua hal. Apa juga diceritain, termasuk cerita soal mantan. Gue bukan tipe orang yang gampang cemburuan sih. Past is past, isn’t it? Tapi terkadang saat doi ngasih TMI (too much information) tentang mantannya, gue jadi tiba-tiba insecure ngerasa kalau doi masih cinta sama mantannya. Terus kalau gue panas, nggak mau kalah, gue cerita balik tentang mantan-mantan gue. No point banget kan ngelakuin hal tersebut?!?

Intinya, saking sahabatannya, kayaknya nggak ada hari dimana kami nggak berperilaku menyebalkan ke satu sama lain. Hingga terkadang, tanpa disadari menyakiti satu sama lain. Untungnya sebelum kebablasan ‘jadi sahabat’, gue dan Kudanil bicara serius dari hati ke hati (ciye ileh) dan sepakat pada kesimpulan kalau FRIENDSHIP KILLS ROMANCE. It dims the sparks of love.  Dan demi kebaikan masing-masing, akhirnya kami setuju untuk menciptakan jarak satu sama lain. Creating new awarkness. Kami coba untuk saling memberi  cukup ruang dan waktu untuk merenung dan menikmati diri masing-masing. 

Begitu pikiran jernih dan ’balikan’ ma doi,  tararaaaaaaa gue tambah cinta dong sama doi. Then I vehemently refuse to love him as friend because all I want to do is to love him as LOVERHahaha!

-ari.sita-

2 comments:

ella arbie said...

Well written Ari, what an interesting topic. I think being easy & friendly to opposite male friend made some one (read: me) more likable but not desirable as a romantic partner :(. Friendship does kill romance and all desires end up fizzling out. Being the one who has been thoughtful for your loved one without wanting something in return make your friend likes you a lot as a companion, not much motivation to please in return. TALK is the only way; but PULL BACK when you see a "NO" signal from him. Confusing, hurting every time, but it's a life.

So, I admire your bravery to choose to love him as your Lover. Keep flirting, teasing, and giving surprises. Overtime, you both will have balanced relationship - liking and wanting.

Anggi said...

Hai Arisita!
:) it's fun to read your blog again.