Pages

Sunday, 16 October 2016

The Magic

Perth, mid October 2016

© Abi Sofyan Ghifari (2016)

"The magic is inside you. There ain't no crystal ball." ~Dolly Parton~

-ari.sita-

Friday, 9 September 2016

Balada Tugas Kelompok: Kick Aja!

Perth, 9 September 2016

Untuk tugas kelompok di unit Nemerical Method & Modelling, gue satu kelompok dengan 3 orang cowok Australia, 1 orang cewek India dan 1 orang cowok India. Yang gue lumayan kenal dan akrab cuma yg si cewek India. 
Media komunikasi utama kami adalah lewat grup fb. Ketemu kelompok cuma sekali. Yang hadir cuma gue dan 3 cowok Australia itu. Pertemuannya singkat. Cuma bagi tugas. Karena ada 5 pertanyaan, jadi masing-masing kebagian tanggung jawab untuk ngerjain 1 pertanyaan (yang beranak pinak). Cover/declaration sheet  ditandatangani saat itu juga terus gue yg megang karena gue bagian ngompile dan juga biar temen gue si cewek Indi bisa ttd. Gue ma dia ngerjain bareng soale.
Nah... si cowok India ini nggak jelas kabarnya. Diundang gabung e grup, dia bilang nggak punya akun fb. Dia malah ngasih nomornya. Terus, harus kami (anggota grup lainnya) yang ngejar2 dia gitu?!?
Helllooooooooo.....
Deket2 deadline, dia baru gabung grup. Dengan sok asiknya, pakai manggil 'bro...' segala (basa-basi) nanya apa yang bisa dia kerjakan. Ketua grup gue bales kalau udah selesai semua.
Ibarat dialog antara Cinta dan Rangga di AADC1, "BASI!!! Madingnya udah mau terbit!!!"
Nah... Rabu lalu si cowok India ucluk-ucluk nyamperin gue setelah kelas. Nodong minta diperbolehkan tanda tangan di cover sheet. Untung gue nggak bawa. Jadi dia ga bisa tanda tangan.
Tapi... karena masih ada seupil perasaan nggak tega, yowesh lah dia disuruh ngerjain persoalan terakhir, paling gampang dan relatif tidak makan waktu banyak (dibandingkan harus coding di Matlab untuk pertanyaan-pertanyaan lainnya), yaitu bikin essay 1-2 halaman tentang sejarah analisis Fourier.
Kemarin siang (H-1 deadline) dia ngirim essaynya. Oh my God!!! Copy-paste banget. Bahkan untuk rumus-rumus yg dia comot entah dari mana! Pada tau kan gimana ancurnya ngopy-paste artikel dr pdf/halaman web ke Word?!? Paragraf pun berantakan. Gue geram banget! Berhubung gue bagian ngompile, gue minta dia ngerevisi essay itu. Kalau udah beres baru temui gue utk ttd cover sheet.
Eh ternyata anggota-anggota lainnya juga geram! Kami bikin virtual meeeting. Mau nge-kick si cowok India atau nggak. Aku sih, YES! yang lain juga YES (kecuali si cewek India yg tidak berani bersikap). Terus memohon-mohon gitu deh dengan berbagai alasan dan janji-janji bakal ngambil porsi lebih besar untuk tugas berikutnya. Dipertimbangkan lah permohonannya dengan catatan tetep harus ngeberesin essay.
Pas jam 6 sore, si cowok India itu nemuin gue untuk ttd cover sheet. Eh.. beberapa menit kemudian si ketua grup gue bilang kalau si cowok India itu di-kick dr grup. Jadi dia dan 2 cowok bule lainnya di grup gue minta si cowok India nemuin mereka utk semacam assessment ada atau tidak adanya itikad baik si cowok India ini untuk berkomitmen di grup. Ternyata menurut mereka, kagak ada secercah pun itikad yg diharapkan itu.
"Lha piyeeeee? Orangnya udah TTD," gue jd serba salah.
Kata si ketua grup, "CORET AJA Nama dan ttd-nya!"
Sudah sesimpel itu!
Perasaan gue jadi campur aduk. Seneng karena ketua gue tegas tapi ngeri juga kalo (amit-amit) si cowok India itu mendendam dan nekat melampiaskannya ke gue. Horror banget! Sekarang jadi kepikiran untuk ngambil kelas beladiri. Hmm...

-ari.sita-

Thursday, 1 September 2016

Balada Tugas Kelompok: Free Rider Oh... Free Rider

Perth, 1 September 2016

Minggu lalu gue lagi rungsing-rungsingnya dan otak hampir mbledos. Penyebab utamanya adalah tugas kelompok untuk unit Project Management & Engineering Practice. Tugasnya sih biasa aja sebenernya: studi kasus sebuah project, digging how project management theories applied on it. Yang bikin mumet adalah:
1. Gue sekelompok sama orang-orang oriental yang bahasa inggrisnya ga jelas (ini bikin gue wondering, kok bisa ya mereka diterima kuliah S2 disini? Mengingat berkali-kalinya gue ambil IELTS demi dapat LOA unconditional disini. Mereka pakai waiver atau gimana ya? Apa pas IELTS pake joki. Sorry banget, gue ga bisa ga negative thinking soal ini.)
2. Banyaknya 'FREE-RIDER!!!' 4 dari 5 orang segrup gue really has no idea about what is project management. Hal ini mungkin karena mereka emang belum pernah kerja/terlibat sebuah proyek, abis S1 lanjut S2. Lalu diperparah dengan malas kuliah (jarang masuk lecture) dan fokus ke HP pas lagi tutorial. Pengen gue timpuk beneran deh, soalnya tiap tutoral itu ada studi kasus yang harus dijawab. Jadinya mereka nggak pernah bisa nyelesain bagian mereka. Ujung-ujungnya gue-gue juga yang memperbaiki. Dan ujung-ujungnya tiap tutornya nunjuk meja kelompok gue untuk jawab pertanyaan, gue lagi, gue lagi yang jawab (walaupun kadang jawaban gue kurang tepat).

3. Mentang-mentang project usulan gue, Perth Rail Stadium, yang menang voting, semua tanggung jawab research diserahkan ke gue. Errrggghhh. ALL BY MYSEEEEEEEEEEELF!!! Mulai cari data, arrange interview sama project managernya, (dan ujung-ujungnnya finishing juga) *ada 1 orang ding yang ngebantuin*
Curhat ke Om Jos, doi malah nanya, "Kenapa stress, hon? Mereka terlalu kompetitif dan gila kerja ya?"
Gue: "KAGAAAAAK! kebalikannya!"
Terus gue lanjut curhat ke satu-satunya anggota grup yang ngebantuin gue itu. Dia bilang, temen-temen segrup yang dari Tiongkok emang nggak bisa diandelin. Umumnya mereka itu cuma stick with text books, less initiative. Lha gue malah jadi bingung. Soale dia orang Tiongkok juga.
"Tiongkok luas keleuuuuuuuus! Penduduknya Milyaran. Nggak semuanya kayak mereka. Buktinya gue."
Terus gue benchmark ke sesama pelajar dari Indonesia yang ngambil unit itu. Ternyata dia bernasib hampir serupa ma gue. Rekan segrupnya yang dari Tiongkok pada jadi Free Rider dan terlihat malas-malasan kuliah. 
"Mereka nggak sayang apa mahal-mahal bayar kuliah disini terus malas-malasan gitu?!? Seceritanya temen gue yang pernah belajar di Eropa dan US, pelajar dari Tiongkok itu super kompetitif. Gila belajar. Kok di grup gue orang-orangnya ga kayak gitu ya?"
Jawab temen gue anak Indonesia itu, "Wajar kali banyak dari mereka malas-malasan kuliah soale tujuan mereka kuliah di Australia kan bukan untuk menuntuk ilmu atau dapat gelar. Tujuan mereka adalah untuk dapat PR (PERMANENT RESIDENCE)."
Errggghhh!!! Pantesan!!! 
Akhirnya dapat penjelasan masuk nalar.

-ari.sita-

Monday, 22 August 2016

Kumaha Engke We...

Perth, 22 Agustus 2016

Beberapa hari yang lalu, di kala transit dari satu kelas ke kelas berikutnya, seorang teman yang berasal dari India yang biasanya segar bugar terlihat pucat. Gue nanya dong dia kenapa. Sakit apa nggak. 
"I have fever and STRESS."
"Stress kenapa?"
"I couldn't finish the problem on last 2 tutorial (of Introduction of Design of Offshore System) sessions. Could you?"

Dengan entengnya gue jawab, "Kagak!"

"How about the previous one, the first one?" tanya dia lagi.
"Selesai tapi jawabanny salah, soalnya salah masukin rumus. Yang harusnya dikali malah ditambah. Hahahaaa"
"Kok lo bisa ketawa gitu sih?"
"Lho? Salah ya gue ketawa?" tanya gue jadi bingung.
"Tutorial will affect your final mark."
"Yes I know. But... it will only contribute 5%, no? 25% from assignments and 70% from final exam. So why should we be too desperate if we failed on tutorial? Different case with Concrete Structure which problem solving in tutorial session will contribute 15% of final mark."
Terus dia curhat panjang lebar. Intinya dia benar-benar merasa tertekan karena tidak bisa ngimbangin ritme perkuliahan disini. Dia bahkan udah kepikiran pengen balik aja ke India.
Beberapa hari kemudian gue cerita soal ini ke teman gue yang anak Indonesia tapi beda jurusan. Teman gue ini malah nambahin kalau tetangga unitnya, orang Papua Nu Gini, juga mirip gitu desperatenya ma teman gue yang India. Sampai-sampai dia nggak mau lagi kuliah, cuma mau datang 1 perkuliahan aja seminggu.
Terus gue jadi mikir, ini mereka-nya aja yang lebay desperatenya apa gue yang terlalu santai ya dengan prinsip 'kumaha engke we' andalan gue?!?
-ari.sita-

Sunday, 21 August 2016

Be Like A Tulip

Araluen, 21 August 2016



© Zidnie Dzakiya Urbayani (2016)

"A Tulip doesn't strive to impress anyone. It doesn't struggle to be different than a rose. It doesn't have to. It is different. And there's room in the garden for everyone." ~Marianne Williamson~

Sunday, 31 July 2016

A Pray from Stranger at Blue House

Perth, 29 July 2016

With Joel at the Blue House © 2016 Joel
Today, in my spare time, I decided to stroll around campus and its neighbor. Blue House became my first and main destination. There, I really enjoyed the simply beautiful scenery offered, the breeze, and also the quiet and peaceful atmosphere (though there were several other visitors bugged me to capture their pictures).

I sat alone on the wooden stair there with occasionally captured landscape pictures with my Nikon D5100. I tried to keep myself busy so that my brain would stop overthinking. But it failed. I kept questioning myself whether I was wise enough or not to pull my self out from my comfort zone. I was a bit regretted my decision to go to Aussie as postgraduate student rather than as traveler with Working Holiday Visa. 

To tell you the truth, I am so inconfident with my (civil) engineering knowledge and skills. I was not a diligent student during my bachelor study. I event took one year longer than normal time to finish it. After graduation, instead of deepening and sharpening my engineering knowledge skills, I downgraded them. I only use max around 10% (or even less) of them. I was trapped in a comfort zone of earning 'easy money'.

Now, though my course in Master of Professional Engineering (with specialization in civil engineering) hasn't started yet, I've worried a lot about it. I've been so scared and almost cried imagining how bloody the days I am gonna have here. Lectures, tutorials, lab activities. Oh NOOOOOO!


Me and my baby Nikon © 2016 Joel
Suddenly there was a stranger approached me. He was one of visitor who asked me to take his picture with Blue House as background. He introduced himself as Joel. He was in Perth for holiday with his family. We engaged in a short nice conversation. We talked and talked and somehow I told him all about my worry and doubts. He listened patiently.

After I finished mumbling, he asked, "Could I offer you a pray. Lets pray together."

I got stunned. His offer slapped my soul because it made me realize that it's been such a long time for me not to pray to God (whose existence I often doubt).

After I gave him a nod, he started leading the pray. We prayed for our wellness (both physically and psychologically), asked Him for not letting us to forget in being grateful upon everything we have in our live. He also asked God to give me strength and confident to undergo my study.

I almost cried again but because of different reason now. Call me sentimental or anything for easily being touched with simple act and kindness. Now I become less worry about my study. Que sera sera!

Today meeting with Joel really convinced me that universe will never let us be alone. He will send help in mysterious and unexpected ways through beautiful souls. All we need to do is always be open on any opportunities of seeking and giving help to each other. Time and pray are two best things we can give for someone, even for stranger one.

Thank you dear Joel for today's heartwarming encounter. See you soon someday, somewhere... Wishing you enjoy your holiday here.

Anyway, here are several pictures of mine captured by Joel.

© 2016 Joel
© 2016 Joel
© 2016 Joel
© 2016 Joel
-ari.sita-