Pages

Tuesday, 9 December 2014

LIONESS' Observation: Bandeng and Its Undercover Story

Semarang, 23 November 2014

Si Ikan Bandeng
Mendadak sejak Rabu lalu eyke dapat tugas dari kantor untuk jadi mandor onshore pipeline route survey milik sebuah perusahaan gas milik negara yang berlokasi di Semarang. Cabcuslah eyke ke kota pelabuhan yang menjadi ibukota dari Propinsi Jawa Tengah ini. Nyokap yang biasanya bawel tiap kali eyke ada kerjaan di luar kota kali ini malah senang banget soalnya eyke bisa sekalian disuruh ziarah ke makam Almarhum Eyang Kakung dan Eyang Uti di Purwodadi yang dapat ditempuh dalam waktu 3-4 jam dengan menggunakan bus umum dari Semarang.

Siaaap! Begitu beres project, eyke akan nyambung cuti 2 hari untuk melaksanakan amanat dari Nyokap.

Selama eyke di Semarang, hampir setiap hari Nyokap neleponin eyke; nanya hotel tempat menginap enak atau nggak, nanya tadi kerjanya ngapain aja, capek apa nggak, ngingetin untuk selalu jaga kesehatan dan keamanan, ngingetin jangan lupa ketemuan sama Mas Andi (sepupu eyke yang lagi kuliah dan kost di Semarang), dan ujung-ujungnya ngingetin untuk jangan lupa bawa pleh-oleh yang banyak dari Semarang. Mulai disebutlah aneka panganan khas kota ini: lumpia, wingko babat cap kereta api, bakso tahu yang kardus kemasannya bergabar lumba-lumba biru, dan pastinya bandeng presto. Eyke pastinya ngeIYAin. Kebahagiaan nyokap kan kebahagiaan eyke juga.

Disini, total ada 4 (empat) titik lokasi pengeboran dan pengampilan sampel tanah yang harus eyke awasi. Dua diantaranya berada di sepanjang jalan raaya di depan Pelabuhan Tanjung Mas dan dua lainnya di area Tambak Rejo. Tiap kali eyke on-duty di area tambak ini, eyke merasa dan mencium bau aneh yang cukup menyengat hidung. Untung eyke sedia masker penutup mulut dan hidung. Kalau masker wajah dan rambut sengaja nggak dibawa, soalnya nggak ada nyokap yang biasa makein.

Hari ini pas eyke lagi ngaso di salah satu warung yang ada di area tambak tersebut, eyke ngelihat beberapa truk sedot tinja nangkring disana. Hooo pantesan area itu bau. Setelah ngobrol-ngeobrol dengan pemilik warung, eyke jadi tahu kenapa kawasan itu jadi pangkalan truk sedot tinja.

Jadi… ternyata ada simbiosis mutualisme antara pemilik usaha sedot tinja dan pemilik usaha tambak. Pemilik usaha sedot tinja bisa untung dengan membuang hasil sedotannya gitu aja ke tambak-tambak yang ada disana. Sang pemilik tambak pun untung karena bisa dapat pakan gratis untuk ikan-ikan yang dibudidayakannya, which is ikan BANDENG.

Apa jangan-jangan yang punya usaha sedot tinja itu adalah sama dengan pemilik tambak?!?

Oh my GOD!

Dan mulai saat itu, tiap kali ngelihat plang iklan bergambar ikan bandeng otomatis ke-convert jadi plang iklan sedot tinja. Setelah lele (yang dari dulu emang terkenal dikasih pakan tinja), kali ini bandeng resmi masuk ke dalam daftar ikan yang pantang dimakan. Dan pokoknya, eyke nggak mau lagi makan ikan darat (Balagu betul ya? Bodo amat!).

Eyke juga mengurungkan niat untuk beli bandeng presto sebagai oleh-oleh untuk Nyokap tercinta dan juga beberapa handai taulan eyke. Eyke kan nggak mau merasa durhaka dengan ngasih tinja ke Nyokap. Semoga Nyokap bisa memahami keputusan yang eyke ambil ini.

~ari~

No comments: