Pages

Wednesday, 2 July 2014

JAKARTA EVENT: Kota Tua Creative Festival 2014

Jakarta, June 21, 2014

Kota Tua Creative Festival merupakan pilot project dari Program Ruang Publik Kreatif, sebuah inisiatif untuk menginspirasi ruang-ruang publik di Jakarta, baik secara temporal maupun permanen. Festival ini berlangsung selama dua hari, yaitu pada tanggal 21 dan 22 Juni dan mengambil tempat di Lapangan Fatahillah, Jakarta. Saya dan George datang ke festival ini di hari pertama.
Kota Tua Creative Festival was a pilot project of Creative Public Spaces Program, an enterprise which initiates the creation of temporary and permanent physical public spaces to be built in central locations in Jakarta, where open public spaces should have existed. This festival took  2 days and was located in Fatahillah Square, Jakarta. I and George came there on its first day.

© +Jiří Sedláček  (2014)

 Barisan sepeda onthel yang telah dicat beraneka warna menyambut  kami saat memasuki Lapangan Fatahillah. Para pengunjung dapat menyewa sepeda-sepeda tersebut lengkap dengan topi berwarna senada untuk para nyonya dan helm jaman kompeni dulu untuk para tuan untuk berkeliling arena festival atau sekedar untuk menjadikannya properti foto. Di sekeliling arena festival juga terdapat installasi berupa potongan plastik mika tebal berbentuk belah ketupat yang digantung dan berisikan harapan-harapan terhadap Kota Jakarta.
A line of colorful onthel (old) bikes greeted us when we entered the Fatahillah Square. Visitors could rent the bike together with the matching-colored hat for the ladies and Dutch-colonial helmet for gentleman to round the festival venue or just to make them as photo properties. In the perimeter of the venue, there was also art installation in the form of diamond-shaped mica plastic hanged above together with the wishes for Jakarta.


© +Jiří Sedláček  (2014)

Sebagai pecinta kopi, otomatis stand ini yang mencuri perhatian saya dan George. Terlebih lagi saat kami mengetahui bahwa kami tidak perlu mengeluarkan uang sepeserpun untuk mendapatkan kopi yang kami mau. Kami pun mengantri bersama beberapa pengunjung lainnya sembari mendengarkan penjelasan dari sang pemilik stand yang antusias mempromosikan produknya.
As a coffee addicts, this boot automatically caught our attention. Moreover when knowing that we didn't need to spend any cent to get the coffee we ordered. So, we queued together with other visitors while listening the owner who was enthusiastically promoting his product. 


© +Jiří Sedláček  (2014)
Di festival ini dipajang beberapa poster yang menampilkan sejarah pendudukan nusantara oleh Kolonial Belanda, khususnya di wilayah Batavia yang merupakan cikal bakal Kota Jakarta.
In this festival, it was displayed several posters about the history of our archipelago occupation by Dutch colonial, especially in Batavia (the former of Jakarta).


© +Jiří Sedláček  (2014)

Salah satu poster lainnya yang dipajang adalah poster yang menampilkan daftar situs Warisan Dunia versi UNESCO yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.
another displayed picture was a poster showing Indonesia UNESCO World Heritage.


© +Jiří Sedláček  (2014)
Festival ini merupakan ajang bagi para pelaku industri kreatif untuk memromosikan dan menjual produk hasil kreasi mereka, seperti contonya  kaligrafi berlafadz Bismillah ir-rahman ir-rahim yang diukir di atas lempengan kuningan ini.
This festival was a showcase for creative industry players to promote and sell their products, for example this calligraphy "Bismillah ir-rahman ir-rahim" (in the name of Allah, The Most Compassionate and The Most Merciful) above this brass plate.


© +Jiří Sedláček  (2014)
Beberapa pedagang makanan kaki lima pun turut meramaikan festival ini dengan Kerak Telor sebagai makanan khas Jakarta yang menjadi primadona para pengunjung.
Several food-street vendors also participated on this festival with Kerak Telor, signatre dish from Jakarta, as the primadona.

-ariana-

No comments: