Pages

Saturday, 28 June 2014

PELAJARAN DARI MAHAMERU - ARTI DARI KEGIGIHAN

Jakarta, 23 Juni 2014

Mahameru memanggil © Jiří Sedláček (2014)
  
"Done!" seru George usai mengaitkan sebuah gembok mungil pada kedua sleting koper besarnya, menandakan bahwa ia selesai membenahi semua barang-barangnya untuk pulang ke kota kelahirannya yang terletak di jantung Benua Eropa.

"Beres semua?" tanyaku untuk memastikan.

"Yes, Hanyshku*," ucapnya sembari mengacak-acak lembut rambut ikal panjangku. Kupaksakan otot pipiku bergerak untuk merangkai senyum di kedua bibirku. "Lets have coffee!" lanjutnya. 

Aku yang masih beler usai bangun dari tidur siang pun mengiyakan. Aku butuh kafein, tidak hanya untuk mengusir kantuk yang masih tersisa namun juga untuk mengikis gundah gulana yang menghampiri. Kami pun bergegas menuju sebuah kedai kopi yang terletak di lantai lobi di tower tempat kami tinggal di Kalibata City. Setibanya disana kami langsung memesan 2 (dua) gelas kopi tarik: panas tanpa gula untuknya dan dingin dengan gula untukku. Sepiring pisang goreng pun ikut meramaikan meja kami.

Kupandangi sosok pria berkebangsaan Republik Ceko di hadapanku lekat-lekat. Kupandangi rambut pirangnya, wajah tirus berbingkai jenggot dan kumisnya, kedua mata hijau kebiruannya. Semuanya kupandangi lekat-lekat. Rasanya baru kemarin aku menjemput kedatangannya di bandara Soekarno Hatta dan hari ini, aku harus rela melepaskan kepergiannya. Sempat terpikir olehku untuk mencuri atau sekedar menyembunyikan paspornya sebagai upaya menyabotase kepulangannya. Ya Tuhan, aku belum siap melepaskan kepergiannya.

Tak terasa enam minggu kebersamaan kami berlalu. Each moment counted. Moment of love, lust, happiness, infuriation, frustration, laugh, cry, dream... Jakarta, Bandung, Bogor dan Malang menjadi saksi kebersamaan kami dengan pendakian ke Gunung Semeru menjadi highlight dalam kunjungannya ke Indonesia kali ini. Pikiranku pun melayang ke masa itu...

...

"Bangun! Bangun! Summit! Summit!" seru Ucup yang merupakan tour leader pendakian kami ke Semeru.

Aku, George dan rekan-rekan sesama pendaki lainnya yang tergabung dalam open tip bersama Ants Adventure pun bergegas bangun. Kami melapisi diri kami dengan jaket, kupluk dan juga sarung tangan untuk melindungi diri dari dinginnya udara yang mungkin mencapai beberapa minus derajat celcius sebelum akhirnya keluar dari tenda masing-masing. Headlamp pun menempel di dahi kami masing-masing. Tak lupa pula masing-masing dari kami membawa sebotol besar air minum dan beberapa cemilan untuk perbekalan menuju puncak.

Setelah semua berkumpul lengkap, kami berdiri membentuk lingkaran. Ucup memberikan briefing singkat kepada kami. Ada 3 (tiga) hal penting yang ia sampaikan.

1. Perjalanan dari Kalimati menuju Mahameru (puncak Gunung Semeru) memakan waktu 6 - 8 jam. Hal tersebut tentunya tergantung dari kekuatan fisik masing-masing. Dikarenakan perjalanan yang panjang, setiap peserta diwajibkan membawa perbekalan yang cukup. Ia mengingatkan agar setiap peserta membawa minimal 1 (satu) botol besar air minum dan beberapa cemilan. Coklat dan madu sangat direkomendasikan karena dapat memberikan energi instan.

2. Semua peserta diharuskan berjalan beriringan, jangan terpisah agar setiap peserta dapat menjaga satu sama lain. Perhatian khusus diberikan saat kita mencapai batas antara vegetasi dan lereng pasir. Di perbatasan tersebut bila salah mengambil jalur bisa-bisa kita memasuki suatu area bernama Blank 75. Area ini merupakan sebuah area hutan yang rawan sekali dimana banyak sekali pendaki dinyatakan hilang karena tersesat di dalamnya.

3. Mahameru bukanlah sesuatu yang mudah untuk digapai. Kita harus melewati lereng pasir setinggi kurang lebih 1000 meter dengan kemiringan sekitar 45 derajat. Selain kekuatan fisik, kekuatan mental alias keyakinan pada diri sendiri lah yang akan membawa kita mampu menggapai Mahameru. Saat berada di lereng pasir nanti, akan ada sebuah efek bernama Summit Illusion, yaitu sebuah fenomena dimana puncak terlihat seolah sangat dekat namun kita tak kunjung jua mencapainya. Di saat itu lah mental kita benar-benar diuji. Hanya keyakinan kita lah yang dapat membawa kita menuju Mahameru. Namun sampai tidak sampai puncak kita harus turun sebelum pukul 9 pagi karena mulai jam itu mulai ada ancaman awan panas yang dapat membahayakan pendaki.

Kami semua mendengarkan dan menyerap briefing tersebut dengan seksama. Setelah semuanya clear, kami pun memnjatkan doa bersama. Tepat pukul 11 malam barulah kami memulai pendakian kami menuju Mahameru.

Pendakian kami berjalan gembira dan penuh semangat. Sesekali bahkan kami bernyanyi beberapa lagu nasional. George yang tidak mengerti bahasa kami pun ikut bertepuk tangan, terlarut dalam semangat yang menggelora.

Waktu demi waktu berlalu. Detik demi detik merangkai menit. Menit demi menit merangkai jam. Tanpa terasa jalur vegetasi pun terlewati. Lereng pasir pun dengan dinginnya menyambut kami. Pendakian ke Mahameru baru benar-benar terasa.


Terjalnya jalur menuju Mahameru © Jiří Sedláček (2014)

Lereng pasir Semeru benar-benar sulit diarungi. Tak jarang tekor langkah terjadi. Satu langkah yang kita panjatkan justru membuat kita merosot ke bawah sebayak 2 (dua) langkah. Tenaga pun berangsur-angsur habis. Sesekali kami berhenti untuk memakan perbekalan kami untuk me-recharge energi. Kami terus melangkah dan melangkah. Saat kedua lutut kakiku sudah lemas, George harus menuntunku dengan menggunakan tracking pole yang kubawa. Ia melangkah terlebih dahulu lalu mengulurkan tracking pole untuk kupegang ujungnya dan ia akan menarikku naik.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Rasa capek makin menyelimuti. Rasa putus asa mulai menyapa.

"This is the hardest path I've ever experienced," ucap George. Aku hanya mengerutkan dahiku. Bagaimana bisa ia yang pernah mendaki Himalaya kalah oleh Semeru?!? Namun kami tetap berjalan, mengerahkan segenap tenaga untuk tidak takhluk pada rasa frustrasi kami.

"Hanyshku, this is impossible mission!" seru George sembari mengecek GPS-nya. Tepat disaat itu semburat orange mulai melukis langit. "Sedari tadi kita berjalan, kita nggak berprogress apa-apa. Kita masih jauh berada beberapa ratus meter di bawah puncak."

Aku pun melongok ke atas. Sang Puncak pun mulai terlihat. Ia terlihat sangat dekat. Ia menggoda kami untuk bergegas menggapainya.

"Hanyshku, sudahlah sampai disini saja! We can't make it!"

"What?!?" aku terbakar emosi. Dengan tegas aku menyatakan, "dengan atau tanpa kamu, aku akan tetap melanjutkan perjalanan menuju puncak!"

"Silakan!" ucap George tidak kalah emosi. Dilemparkannya tracking pole yang digunakannya untuk menggeret diriku sepanjang perjalanan tadi.

Aku jadi makin emosi. Aku beranjak naik meninggalkannya. Satu langkah naik - dua langkah turun benar-benar terasa. Aku benar-benar ingin menangis. Kesal, capek dan kecewa karena ternyata pacarku tidak setangguh yang aku kira.

Beberapa saat kemudian, "Hanyshku, pegang ini!" ucap George. Ia kembali mengulurkan tracking pole-nya padaku. "Ayo naik!" ucapnya dengan lembut sembari kembali menggeretku untuk membantuku naik. Kami pun bersemangat kembali untuk menggapai puncak. Kami kalahkan segala ego dan keputusasaan kami.

Akhirnya pada sekitar pukul 8 pagi kami berhasil menapakkan kaki-kaki kami di Mahameru. Semua rasa lelah langsung luruh, terbasuh oleh segenap rasa haru dan suka cita. Aku peluk erat George seraya menumpahkan air mata haruku di dadanya. Diusap-usapnya rambutku.

"We made it!" ucapku.

"Yes Hanyshku," balasnya seraya mengecup dahiku.

"Maaf sudah berperilaku menyebalkan..."

"Ssssttt..." potongko agar ia tak melanjutkan ucapannya. "Terimakasih, Sayang. Terimakasih sudah menemani dan membantu saya menggapai puncak yang telah lama saya mimpikan ini."

Ia menggaguk. Kemudian, didekatkannya wajahnya ke wajahku. Dikecupnya kedua bibirku. Kami terlarut dalam romansa kebersamaan di Puncak Mahameru.

We made it!!!

...

"Bagaimana kopinya?" tanya George membuyarkan lamunanku.

"Good!" jawabku diiringi sebuah senyuman.

Aku dan George menikmati sepiring pisang goreng yang tersaji di meja di antara kami dengan khidmatnya, menikmati petang terakhir kami bersama di Jakarta. Kedepannya kuyakin masih banyak hari-hari lain yang akan kami lalui bersama.

Mahameru telah mengajarkan padaku arti kata sebuah perjuangan dan kegigihan. Jakarta - Praha bukanlah sebuah jarak yang dapat dengan mudahnya digulung. Namun, bila summit illusion menuju Mahameru dapat kami lalui, bukan hal yang mustahil bahwa kami dapat melewati segala rintangan yang terbentang di hadapan kami dalam menjalani hubungan jarak jauh ini.

@misslejonet

NOTE:

Hanyshku: panggilan sayang George padaku, bentuk diminutive Ceko untuk honey.

3 comments:

arievrahman said...

Aw sweet! Kalian sangat jatuh cinta!

vira said...

iya nih kerasa banget lope-nyaaa ^.^

Ariana said...

Terimakasih para kakak menthor Travel&Blog untuk komen-komennya :)