Pages

Friday, 20 June 2014

CATATAN PERJALANAN MENUJU PUNCAK ABADI PARA DEWA

MAHAMERU. Siapa sih yang nggak ngiler untuk kesana? Itu lho, puncak tertinggi di tanah Jawa. Yang bahkan disebut Dewa 19 sebagai puncak abadi dewa. Jangankan orang yang memang hobi naik gunung, 'orang awam' saja pengen kesana apalagi setelah menonton film berjudul 5 cm yang cukup parah mengekspos keindahan alam Gunung Semeru.

Saya pribadi pengen banget ke Mahameru sejak zaman berseragam putih abu-abu. Namun sayang, dikarenakan satu dan lain pertimbangan excuse, hal tersebut hanyalah menjadi sebuah mimpi. Sepuluh tahun kemudian, tepatnya di pekan terakhir bulan Mei 2014, barulah saya benar-benar terbangun dan akhirnya mewujudkan mimpi itu. Ikutlah saya dalam sebuah open trip yang diadakan oleh Ants Adventure.

Perjalanan ke Semeru ini rasanya nano-nano banget. Mmanis, asam, asin, ramai rasanya! Seru, melelahkan, mengharukan daaaaaaaaaaaaaaaan pastinya romantis, soalnya saya ditemani oleh pacar yang jauh-jauh datang dari Praha, Republik Ceko, hihihiiiii. *pamer* *blushing*


# Ranu Pane

Desa yang terletak di ketinggian 2200 mdpl di wilayah administratif Kab. Lumajang ini adalah gerbang masuk utama (dan satu-satunya) pendakian ke Gunung Semeru. Disini, setiap pendaki wajib melengkapi kelengkapan proses administrasi di pos petugas di bawah kepengurusan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Dua dokumen utama yang perlu dipersiapkan adala fotokopi identitas diri (KTP/SIM bagi WNI, Passport/KITAS untuk WNA), dan surat keterangan sehat dari dokter. Selain itu, pendaki juga diharuskan menandatangi surat perjanjian yang menyatakan persetujuan bahwa TNBTS bertanggung jawab hanya sampai Kalimati. Lewat dari itu, keselamatan jiwa menjadi tanggung jawab masing-masing individu.

Kabut pagi di Ranu Pane © Jiří Sedláček (2014)

Perlu diketahui bahwa pendakian ke Semeru tidak semudah seperti yang dipertontonkan di film 5 cmPerlu persiapan fisik dan mental yang memadai karena medan yang akan dilalui cukup berat (apalagi untuk pendaki pemula) ditambah lagi dinginnya suhu udara yang bisa mencapai beberapa minus derajat celcius. Ransel yang dibawa nggak akan sekempes yang dibawa oleh para tokoh di film yang mengadaptasi novel berjudul sama itu. Kecuali kalau kalian sewa tenaga porter lho yaaa.


Di depan pos registrasi TNBTS © Jiří Sedláček (2014)

Sebelum memulai pendakian, petugas akan memeriksa kelengkapan logistik masing-masing pendaki. Perhatian khusus diberikan sleeping bag karena dinginnya suhu di Semeru acap kali memacu terjadinya hypothermia (kehilangan panas tubuh) yang bisa membuat pendaki kehilangan nyawanya. Selain itu, sangat disarankan bagi para pendaki untuk beristirahat/bermalam di Ranu Pane. Hal tersebut diperuntukkan untuk aklimatisasi, yaitu proses tubuh dalam menyesuaikan diri secara bertahap terhadap perubahan lingkungan khususnya terhadapap perubahan temperatur dan tekanan udara. Pendaki dapat membuka tenda di tanah lapang atau menyewa kamar di penginapan yang ada di dekat areal pos pendaftaran.

Ready to start hiking © Jiří Sedláček (2014)


# Ranu Kumbolo

Perjalanan dari Ranu Panu menuju Ranu Kumbolo berjarak tempuh sekitar 7 km. Kami, dengan 'jalan-jalan santai', berhasil melipir punggungan yang membelah hutan tropis ini dalam waktu 5 jam. Setibanya kami disana, lokasi  ini sudah dipadati oleh tenda-tenda beraneka warna milik para pendaki Gunung Semeru baik yang beranjak naik maupun turun.



Bersama pacar menuju Ranu Kumbolo :)

Ranu Kumbolo merupakan sebuah sumber mata air yang disakralkan oleh pemeluk agama Hindu. Airnya dapat diambil sebagai air minum dan untuk keperluan memasak. Namun tidak diperkenankan bagi para pendaki untuk mencemarinya dengan sampah dalam bentuk apapun. Pendaki harus melepas alas kaki saat ingin mencelupkan kaki di danau itu. Nyemplung dan berenang seperti yang dipertontonkan di film 5 cm jelas-jelas adalah hal yang tidak patut ditiru. Selain karena dapat mencemari danau, hal tersebut juga dapat membahayakan nyawa. Pernah ada kejadian, pendaki tenggelam dikarenakan melakukan hal tersebut.


Perkampungan tenda di Ranu Kumbolo © Jiří Sedláček (2014)

Ranu Kumbolo dengan hamparan langit malamnya yang luar biasa indah juga menjadi salah satu destinasi astrophotography expedition. Bintang-bintang bertaburan dengan indahnya. Dengan menggunakan aplikasi Google Map, saya dan pacar coba membaca rasi bintang yang ada. Hanya Ursa Major (beruang besar) yang dapat kami kenali. Hujan meteor pun sesekali terjadi. Sayang kemampuan fotografi dan kamera kami belum mampu mengabadikan indahnya langit Ranu Kumbolo di malam itu.

Anyway, di waktu dan bulan tertentu milky way dapat dilihat dengan mata telanjang juga lho di Ranu Kumbolo. Klik disini untuk mendapatkan panduan dalam memburu milky way.


# Tanjakan Cinta

Tanjakan cinta merupakan jalan setapak untuk mendaki sebuah bukit yang letaknya persis setelah Ranu Kumbolo menuju Oro-Oro Ombo. Bukit ini memiliki kemiringin sekitar 45 derajat sehingga tidak bisa dikatakan cukup mudah unduk didaki.

Terdapat sebuah mitos yang melegenda tentang tempat ini. Konon, apabila kita memikirkan seseorang yang kita sayangi sembari mendaki tanjakan ini tanpa sedikitpun menoleh ke belakang, maka orang tersebut akan menjadi jodoh kita. Banyak teman saya yang mencoba mitos itu. Ada beberapa pula (khususnya yang  masih galau atau bahkan bercita-cita untuk berpoligami :P)  mencoba menaiki dan meuruni bukit ini lebih dari sekali.

Bersama pacar sebelum menaiki tanjakan cinta

Saya sendiri manaiki tanjakan ini sembari berpegangan tangan dengan pacar saya. Teman-teman kami kontan bersorak. Mereka menggoda kami dan memanggil-manggil nama kami. Namun kami berdua berhasil saling mengingatkan untuk tidak sekalipun tergoda untuk menoleh ke belakang. Barulah saat benar-benar mencapai bukit itu kami menoleh ke belakang. Cantiknya Ranu Kumbolo menjadi hadiah tersendiri bagi kami.

# Oro-Oro Ombo

Selepas ngos-ngosan mendaki tanjakan cinta, mata kami dimanjakan oleh cantiknya hamparan karpet ungu seluas kurang lebih 20 hektar yang melapisi sabana bernama Oro-oro Ombo. Hamparan tersebut terbentuk dari barisan tanaman setinggi 1.5 sampai dengan 2.0 meter bernama latin Verbena Brasiliensis Vell* yang sedang mekar-mekarnya di bulan Mei dan Juni. Ungunya sabana dipadu dengan kuning kehijaunannya perbukitan menjadikan lanskap disini tidak kalah cantik dengan padang lavender di Provence, Perancis.

*Dibalik kecantikannya ternyata tanaman ini justru mencemaskan karena ia merupakan tanaman asing yang bersifat invansif sehingga bisa menggusur rerumputan dan alang-alang yang merupakan tanaman asli TNBTS. Referensi lebih lanjut klik disini.


Strolling at Oro - Oro Ombo

# Kalimati

Perjalanan dari Ranu Kumbolo ke Kalimati dapat ditempuh dalam waktu 5 - 7 jam. Rombongan kami tiba disana pada sekitar pukul 4 sore. Lokasi ini merupakan areal perkemahan kedua setelah Ranu Kumbolo. Kami beristirahat disini untuk mengisi ulang energi dan persediaan air minum kami sebelum memulai perjalanan kami menuju puncak, tengah malam nanti. Saat berada di area ini, sangat disarankan bagi para pendaki untuk mengenakan masker karena hujan abu vulkanik intens terjadi.

© Jiří Sedláček (2014

Kalimati juga menjadi batas akhir dimana pihak TNBTS memperbolehkan pengunjung untuk mendaki Gunung Semeru. Mulai dari lokasi ini, keselamatan jiwa dari dan menuju Mahameru menjadi tanggung jawab masing-masing individu. Hal tersebut secara tegas tercantum dalam surat perjanjian yang harus ditandatangani di atas materai saat melakukan registrasi pendakian.

# Mahameru

Rombongan kami mulai pendakian ke puncak pada pukul 11 malam dan tiba di Mahameru pada sekitar pukul 8 pagi. Trek ini sangat berbahaya dikarenakan curamnya lereng yang didominasi oleh pasir, gravel dan batuan lepas. Ungkapan 1 langkah naik, 2 kali merosot benar-benar terasa. Disinilah mental kita benar-benar diuji. Menginjak batu seberapapun terlihat kokohnya batu itu justru menjadi sangat berbahaya karena apabila batu itu terlepas bukan hanya kita terperosok namun pendaki di bawah kita terancam mendapat luka akibat terhantam batu itu.  

Bersama Sahabat Ants di Mahameru

Begitu tiba di Mahameru haru-biru membasuh dada. Kami semua berpelukan. Ada rasa puas dan bangga terukir di setiap wajah kami dan wajah-wajah pendaki lainnya yang ada disana. Mahameru benar-benar meluruhkan angkuhnya segala rasa di hati. Tak sedikit dari kami menumpahkan air mata sembari bersujud syukur pada Sang Pencipta atas segala nikmat dan kuasa-Nya. 

--//selesai///--

Catatan:

  • Dari Tumpang, Kab. Malang, ada beberapa cara menuju Ranu Pane. Yang paling umum digunakan adalah menyewa truk atau jeep. Harga sewa jeep berkisar antara Rp. 500.000,00 sampai dengan Rp. 600.00,00. Sedangkan untuk sewa truk, setiap orang dikenakan tarif sebesar Rp. 40.000,00 per orang. Perjalanan akan memakan waktu sekitar 2 - 3 jam, tergantung dari kemampuan sang pengemudi.
  • Sedangkan tarif sewa jeep dari Cemoro Lawang ke Ranu Pane berkisar antara Rp. 400.000,00 sampai dengan Rp. 600.000,00. Saya pribadi, bersama pacar, menyewa ojek dengan tarif sebesar Rp. 150.000,00 per orang. 
  • Tarif masuk TNBTS bai wisatawan lokal adalah sebesar Rp. 37.500,- per hari di hari biasa dan Rp. 67.500,00 di hari libur. Sedangkan untuk wisataawan asing dikenakan tarif sebesar Rp. 207.500,00 per hari untuk hari biasa dan Rp. 307.500,00 per hari untuk hari libur.

No comments: