Pages

Monday, 30 June 2014

BANDUNG SPOTLIGHT: Saung Angklung Udjo

Bandung, June 15 2014

It was at 2 PM and Bandung was still cloudy with patchy drizzle when I and my Wolfie arrived at Saung Angklung Udjo (SAU) located in Jl. Padasuka. That compound of bamboo houses is a cultural center to preserve the Sundanese culture - Angklung in particular - which was established in 1966 by Udjo Ngagalena and his beloved wife, Uum Sumiati. Our main purpose to visit that place established , was to see the Afternoon Bamboo Show which regularly performed there.

I and my Wolfie purchased tickets for performance showed at 3.30 PM. Instead of printed paper, they gave us Angklung-pendant rope necklace as the ticket. The show was packed with several mini performances. It consisted of wayang golek (Sundaneese wooden puppet) demonstration, Helaran procession, Traditional Dances and Angklung for beginner, Angklung orchestra, Angklung interactive to Arumba.

© +Jiří Sedláček  (2014)


The dalang (puppet master) performed some scenes of Ramayana tale. One of them was the scene when Hanoman (the white monkey general) was having fight with the devil Rahwana as part of his mission to save King Rama’s wife, Sinta. Cepot ,the most legendary figure in Sundanese wayang golek, was also showed up here complete with his signature jokes.

© +Jiří Sedláček  (2014)

Helaran is a traditional procession that comes along to celebrate the khitan (circumcision) for boy or rice/paddy harvest. The boy is be carried in a bamboo carriage to round the kampong (village) in order to amuse him and make him forget about the pain after his  circumcision.

© +Jiří Sedláček  (2014)

There are two kinds of traditional dance performed here; mask dance and peacock dance. At the time we came, the peacock dance was the performed one.





video

Angklung Orchestra, conducted by kang Chandra - one of the offspring of Mang Udjo - the fouder. Each youth brought up to 10 angklung.  In assemble they played several songs both local and foreign. This video was captured when hey were playing I Love You Baby - Can't take My Eyes Out of You which first popularized by frank Sinatra in 60s.  

© +Jiří Sedláček  (2014)

Angklung for kids. Each kid brought 2 - 3 angklung. In assemble they played several Indonesian traditional songs across the archipelago starting with Bungong Jeumpa from Aceh until Yamko Rambe Yambo from Papua.

There is also souvenir shop that's integrated with the ticket counter. Besides Angklung and its miniature, there we saw so many other handicraft craved from bamboo and wood. There were also some displays of traditional clothes and some T-shirts either for kids and adults. My wolfie brought a wooden mask for his collection and some souvenirs such as pandan-leaf-woven wallet and wooden pen for his colleagues in Prague. While me, I bought a sheet of Batik and a pair of shoes with ikat pattern.

Inside the souvenir shop © +Jiří Sedláček  (2014)
© +Jiří Sedláček  (2014)
Various kinds of T-shirt sold at Saung Angklung Udjo © +Jiří Sedláček  (2014)

Last but not least, Saung Angklung Udjo is definitely a great spotlight not to be when visiting Bandung.

-ariana-

Notes:

Address and Contact
Jl. Padasuka 118, Bandung 40192 West Java - Indonesia
Phone. +62 22 727 1714, +62 22 710 1736 Fax. +62 22 720 1587
Email. info@angklung-udjo.co.id

Schedule of Afternoon Afternoon Bamboo Show
15.30 PM - 17.30 PM & 18.00 PM - 20.00 PM

Entrance Fee for Afternoon Bamboo Show
60,000 IDR for local & 100,000 IDR for foreigner

How to Go There with Public Transportation
Take green angkot Cicaheum - Ciroyom directing to Cicaheum, get off at Jl. Padasuka, walk for around 200 m or simply take ojek (motorcycle taxi) for 5,000 IDR to reach the venue.

Sunday, 29 June 2014

HOTEL REVIEW: Rumah Dangdos Bandung

Bandung, Juni 2014

Tampak depan Rumah Dangdos (sumber: www.klikhotel.com)

"Selamat datang di Rumah Dangdos. Jangan sungkan-sungkan, anggap saja rumah sendiri," sapa seorang pria paruh baya begitu saya dan George memasuki sebuah rumah bergaya kolonial Belanda yang terletak di Jl. Pangeran Kornel No. 3, Bandung. Ia mempersilakan kami duduk di atas sofa salah satu common room (ruang bersama) yang ada disana.

Kami menyerahkan voucher hotel yang kami beli dari salah satu situs online booking. Sembari menunggu kamar kami disiapkan, ia bertanya kami mau minum apa. Tanpa banyak pikir panjang kami pun menyebutkan minuman favorit kami, 'kopi'. Tidak lama berselang, seorang pembantu rumah tangga menyajikan minuman yang kami pesan. Sebuah aroma yang tidak asing menghigapi cuping hidung saya. Ah... Kopi Aroma!!! Kopi khas Bandung yang menjadi favorit saya semasa kuliah di ITB dulu.

Ruang bersama di Rumah Dangdos © Jiří Sedláček (2014)
Patio di area void Rumah Dangdos © Jiří Sedláček (2014)

Sembari menikmati kopi dan rintik hujan yang masih bersisa, kami cukup banyak berbincang dengan pria bernama Pak Yusron itu. Ia merupakan staff sekaligus pemilik Rumah Dangdos. Dengan bahasa Inggris-nya yang fasih, ia bercerita tentang penginapan yang dimilikinya itu. Diakunya bahwa Rumah Dangdos mengadopsi konsep Bed & Breakfast (B&B) seperti yang banyak terdapat di Inggris atau negara-negara Eropa lainnya. Biasanya B&B menempati sebuah rumah pribadi dengan jumlah kamar yang disewakan kurang dari 10. Berbeda dari hotel pada umumnya, servis yang disediakan B&B tidaklah bersifat 24 jam. B&B hanya menyediakan akomodasi berupa tempat bermalam dan sarapan pagi.

Untuk rumah Dangdos sendiri, disini terdapat total 4 (empat) kamar tidur yang disewakan dan 1 (satu) kamar mandi bersama (sharing bathroom). Interior dan eksterior bangunan ini sarat bernuansa vintage dan didominasi oleh perabot kayu. Di ruang tamu yang menjadi common room, selain foto keluarga, dinding-dinding disana banyak dihiasi oleh beberapa lukisan. Salah satu lukisan yang paling menarik bagi saya adalah replika lukisan Raden Saleh yang menggambarkan 4 (empat) ekor singa tengah menyerang seorang ksatria berkuda lengkap dengan sebilah pedang panjangnya. Selain itu, terdapat juga sebuah piano yang dapat dimainkan oleh pengunjung yang berminat.


Kamar di Rumah Dangdos © Jiří Sedláček (2014)

Sembari menunjuk pada peta Bandung yang ada di dekat kami, Pak Yusron bersemangat sekali merekomendasikan beberapa objek wisata yang ada di Bandung. Untuk tidak memonopoli pembicaraan, ia juga sangat antusias mengorek cerita dari George tentang kota kelahirannya, Praha. Suasana akrab pun makin terasa.

Kami dipersilakan masuk ke kamar kami begitu kamar tersebut sudah beres dibersihkan. Kamar kami dilengkapi dengan sebuah ranjang ukuran sedang, kipas angin kecil, meja-meja kecil, cermin dan standing lamp. Dua potong handuk bersih pun tersedia. Saya dan George tidur sore terlebih dahulu untuk melepas penat sebelum petang nanti kami harus bertolak menghadiri resepsi pernikahan salah seorang kawan kuliah saya dulu yang diadakan di gedung Serasan Sesko TNI di Jl. Martanegara.


Pak Yusron sendiri yang melayani sendiri para tamunya, termasuk pada saat sarapan

Menu sarapan di Rumah Dangdos © Jiří Sedláček (2014)

Keesokan harinya, kami terbangun saat terdengar alunan denting piano yang dimainkan oleh salah seorang tamu lain. Benar-benar romantis. Dan begitu kami keluar kamar, kami menjumpai ruang di bawah void yang ada di depan kamar kami disulap menjadi ruang makan bersama. Tidak seperti hotel pada umumnya yang menyajikan roti dan atau nasi goreng, Rumah Dangdos menyajikan paket nasi kuning dengan potongan telur dadar keripik tempe, dan suwir daging dibungkus dalam daun pisang. dilengkapi pula dengan kerupuk renyah. Indonesia banget! Free flow jus jeruk dan kopi turut menemani. Tak lupa kue tradisional berupa kue mangkuk disajikan sebagai makanan pencuci mulut.

Rumah Dangdos benar-benar memberikan pengalaman yang berbeda dari menginap di hotel lain. Keramahan dan kenyamanan disini benar-benar membuat serasa tinggal di rumah sendiri. Lain kali menyambangi Kota Bandung, Rumah Dangdos sudah pasti menjadi pilihan utama  kami untuk menginap.

--//--

Catatan:
#  Jl. Pangeran Kornel terletak persis berseberangan dengan Jl. Maulana Yusuf.
- Dari arah Simpang Dago ke BIP: belok kiri perempatan Dukomsel (atau toko mainan Celebrate), jalan beberapa puluh meter, belok kiri lagi.
- Dari Jl. Surapati arah Gazibu ke Cikapayang: belok kiri di jalan tepat sebelum Restoran Citroen Grass.

# Selain melalui online hotel booking seperti www.agoda.com, untuk informasi harga dan reservasi Rumah Dangdos dapat menghubungi  022 61415463 atau email ke rumahdangdos@gmail.com

Saturday, 28 June 2014

PELAJARAN DARI MAHAMERU - ARTI DARI KEGIGIHAN

Jakarta, 23 Juni 2014

Mahameru memanggil © Jiří Sedláček (2014)
  
"Done!" seru George usai mengaitkan sebuah gembok mungil pada kedua sleting koper besarnya, menandakan bahwa ia selesai membenahi semua barang-barangnya untuk pulang ke kota kelahirannya yang terletak di jantung Benua Eropa.

"Beres semua?" tanyaku untuk memastikan.

"Yes, Hanyshku*," ucapnya sembari mengacak-acak lembut rambut ikal panjangku. Kupaksakan otot pipiku bergerak untuk merangkai senyum di kedua bibirku. "Lets have coffee!" lanjutnya. 

Aku yang masih beler usai bangun dari tidur siang pun mengiyakan. Aku butuh kafein, tidak hanya untuk mengusir kantuk yang masih tersisa namun juga untuk mengikis gundah gulana yang menghampiri. Kami pun bergegas menuju sebuah kedai kopi yang terletak di lantai lobi di tower tempat kami tinggal di Kalibata City. Setibanya disana kami langsung memesan 2 (dua) gelas kopi tarik: panas tanpa gula untuknya dan dingin dengan gula untukku. Sepiring pisang goreng pun ikut meramaikan meja kami.

Kupandangi sosok pria berkebangsaan Republik Ceko di hadapanku lekat-lekat. Kupandangi rambut pirangnya, wajah tirus berbingkai jenggot dan kumisnya, kedua mata hijau kebiruannya. Semuanya kupandangi lekat-lekat. Rasanya baru kemarin aku menjemput kedatangannya di bandara Soekarno Hatta dan hari ini, aku harus rela melepaskan kepergiannya. Sempat terpikir olehku untuk mencuri atau sekedar menyembunyikan paspornya sebagai upaya menyabotase kepulangannya. Ya Tuhan, aku belum siap melepaskan kepergiannya.

Tak terasa enam minggu kebersamaan kami berlalu. Each moment counted. Moment of love, lust, happiness, infuriation, frustration, laugh, cry, dream... Jakarta, Bandung, Bogor dan Malang menjadi saksi kebersamaan kami dengan pendakian ke Gunung Semeru menjadi highlight dalam kunjungannya ke Indonesia kali ini. Pikiranku pun melayang ke masa itu...

...

"Bangun! Bangun! Summit! Summit!" seru Ucup yang merupakan tour leader pendakian kami ke Semeru.

Aku, George dan rekan-rekan sesama pendaki lainnya yang tergabung dalam open tip bersama Ants Adventure pun bergegas bangun. Kami melapisi diri kami dengan jaket, kupluk dan juga sarung tangan untuk melindungi diri dari dinginnya udara yang mungkin mencapai beberapa minus derajat celcius sebelum akhirnya keluar dari tenda masing-masing. Headlamp pun menempel di dahi kami masing-masing. Tak lupa pula masing-masing dari kami membawa sebotol besar air minum dan beberapa cemilan untuk perbekalan menuju puncak.

Setelah semua berkumpul lengkap, kami berdiri membentuk lingkaran. Ucup memberikan briefing singkat kepada kami. Ada 3 (tiga) hal penting yang ia sampaikan.

1. Perjalanan dari Kalimati menuju Mahameru (puncak Gunung Semeru) memakan waktu 6 - 8 jam. Hal tersebut tentunya tergantung dari kekuatan fisik masing-masing. Dikarenakan perjalanan yang panjang, setiap peserta diwajibkan membawa perbekalan yang cukup. Ia mengingatkan agar setiap peserta membawa minimal 1 (satu) botol besar air minum dan beberapa cemilan. Coklat dan madu sangat direkomendasikan karena dapat memberikan energi instan.

2. Semua peserta diharuskan berjalan beriringan, jangan terpisah agar setiap peserta dapat menjaga satu sama lain. Perhatian khusus diberikan saat kita mencapai batas antara vegetasi dan lereng pasir. Di perbatasan tersebut bila salah mengambil jalur bisa-bisa kita memasuki suatu area bernama Blank 75. Area ini merupakan sebuah area hutan yang rawan sekali dimana banyak sekali pendaki dinyatakan hilang karena tersesat di dalamnya.

3. Mahameru bukanlah sesuatu yang mudah untuk digapai. Kita harus melewati lereng pasir setinggi kurang lebih 1000 meter dengan kemiringan sekitar 45 derajat. Selain kekuatan fisik, kekuatan mental alias keyakinan pada diri sendiri lah yang akan membawa kita mampu menggapai Mahameru. Saat berada di lereng pasir nanti, akan ada sebuah efek bernama Summit Illusion, yaitu sebuah fenomena dimana puncak terlihat seolah sangat dekat namun kita tak kunjung jua mencapainya. Di saat itu lah mental kita benar-benar diuji. Hanya keyakinan kita lah yang dapat membawa kita menuju Mahameru. Namun sampai tidak sampai puncak kita harus turun sebelum pukul 9 pagi karena mulai jam itu mulai ada ancaman awan panas yang dapat membahayakan pendaki.

Kami semua mendengarkan dan menyerap briefing tersebut dengan seksama. Setelah semuanya clear, kami pun memnjatkan doa bersama. Tepat pukul 11 malam barulah kami memulai pendakian kami menuju Mahameru.

Pendakian kami berjalan gembira dan penuh semangat. Sesekali bahkan kami bernyanyi beberapa lagu nasional. George yang tidak mengerti bahasa kami pun ikut bertepuk tangan, terlarut dalam semangat yang menggelora.

Waktu demi waktu berlalu. Detik demi detik merangkai menit. Menit demi menit merangkai jam. Tanpa terasa jalur vegetasi pun terlewati. Lereng pasir pun dengan dinginnya menyambut kami. Pendakian ke Mahameru baru benar-benar terasa.


Terjalnya jalur menuju Mahameru © Jiří Sedláček (2014)

Lereng pasir Semeru benar-benar sulit diarungi. Tak jarang tekor langkah terjadi. Satu langkah yang kita panjatkan justru membuat kita merosot ke bawah sebayak 2 (dua) langkah. Tenaga pun berangsur-angsur habis. Sesekali kami berhenti untuk memakan perbekalan kami untuk me-recharge energi. Kami terus melangkah dan melangkah. Saat kedua lutut kakiku sudah lemas, George harus menuntunku dengan menggunakan tracking pole yang kubawa. Ia melangkah terlebih dahulu lalu mengulurkan tracking pole untuk kupegang ujungnya dan ia akan menarikku naik.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Rasa capek makin menyelimuti. Rasa putus asa mulai menyapa.

"This is the hardest path I've ever experienced," ucap George. Aku hanya mengerutkan dahiku. Bagaimana bisa ia yang pernah mendaki Himalaya kalah oleh Semeru?!? Namun kami tetap berjalan, mengerahkan segenap tenaga untuk tidak takhluk pada rasa frustrasi kami.

"Hanyshku, this is impossible mission!" seru George sembari mengecek GPS-nya. Tepat disaat itu semburat orange mulai melukis langit. "Sedari tadi kita berjalan, kita nggak berprogress apa-apa. Kita masih jauh berada beberapa ratus meter di bawah puncak."

Aku pun melongok ke atas. Sang Puncak pun mulai terlihat. Ia terlihat sangat dekat. Ia menggoda kami untuk bergegas menggapainya.

"Hanyshku, sudahlah sampai disini saja! We can't make it!"

"What?!?" aku terbakar emosi. Dengan tegas aku menyatakan, "dengan atau tanpa kamu, aku akan tetap melanjutkan perjalanan menuju puncak!"

"Silakan!" ucap George tidak kalah emosi. Dilemparkannya tracking pole yang digunakannya untuk menggeret diriku sepanjang perjalanan tadi.

Aku jadi makin emosi. Aku beranjak naik meninggalkannya. Satu langkah naik - dua langkah turun benar-benar terasa. Aku benar-benar ingin menangis. Kesal, capek dan kecewa karena ternyata pacarku tidak setangguh yang aku kira.

Beberapa saat kemudian, "Hanyshku, pegang ini!" ucap George. Ia kembali mengulurkan tracking pole-nya padaku. "Ayo naik!" ucapnya dengan lembut sembari kembali menggeretku untuk membantuku naik. Kami pun bersemangat kembali untuk menggapai puncak. Kami kalahkan segala ego dan keputusasaan kami.

Akhirnya pada sekitar pukul 8 pagi kami berhasil menapakkan kaki-kaki kami di Mahameru. Semua rasa lelah langsung luruh, terbasuh oleh segenap rasa haru dan suka cita. Aku peluk erat George seraya menumpahkan air mata haruku di dadanya. Diusap-usapnya rambutku.

"We made it!" ucapku.

"Yes Hanyshku," balasnya seraya mengecup dahiku.

"Maaf sudah berperilaku menyebalkan..."

"Ssssttt..." potongko agar ia tak melanjutkan ucapannya. "Terimakasih, Sayang. Terimakasih sudah menemani dan membantu saya menggapai puncak yang telah lama saya mimpikan ini."

Ia menggaguk. Kemudian, didekatkannya wajahnya ke wajahku. Dikecupnya kedua bibirku. Kami terlarut dalam romansa kebersamaan di Puncak Mahameru.

We made it!!!

...

"Bagaimana kopinya?" tanya George membuyarkan lamunanku.

"Good!" jawabku diiringi sebuah senyuman.

Aku dan George menikmati sepiring pisang goreng yang tersaji di meja di antara kami dengan khidmatnya, menikmati petang terakhir kami bersama di Jakarta. Kedepannya kuyakin masih banyak hari-hari lain yang akan kami lalui bersama.

Mahameru telah mengajarkan padaku arti kata sebuah perjuangan dan kegigihan. Jakarta - Praha bukanlah sebuah jarak yang dapat dengan mudahnya digulung. Namun, bila summit illusion menuju Mahameru dapat kami lalui, bukan hal yang mustahil bahwa kami dapat melewati segala rintangan yang terbentang di hadapan kami dalam menjalani hubungan jarak jauh ini.

@misslejonet

NOTE:

Hanyshku: panggilan sayang George padaku, bentuk diminutive Ceko untuk honey.

Friday, 20 June 2014

CATATAN PERJALANAN MENUJU PUNCAK ABADI PARA DEWA

MAHAMERU. Siapa sih yang nggak ngiler untuk kesana? Itu lho, puncak tertinggi di tanah Jawa. Yang bahkan disebut Dewa 19 sebagai puncak abadi dewa. Jangankan orang yang memang hobi naik gunung, 'orang awam' saja pengen kesana apalagi setelah menonton film berjudul 5 cm yang cukup parah mengekspos keindahan alam Gunung Semeru.

Saya pribadi pengen banget ke Mahameru sejak zaman berseragam putih abu-abu. Namun sayang, dikarenakan satu dan lain pertimbangan excuse, hal tersebut hanyalah menjadi sebuah mimpi. Sepuluh tahun kemudian, tepatnya di pekan terakhir bulan Mei 2014, barulah saya benar-benar terbangun dan akhirnya mewujudkan mimpi itu. Ikutlah saya dalam sebuah open trip yang diadakan oleh Ants Adventure.

Perjalanan ke Semeru ini rasanya nano-nano banget. Mmanis, asam, asin, ramai rasanya! Seru, melelahkan, mengharukan daaaaaaaaaaaaaaaan pastinya romantis, soalnya saya ditemani oleh pacar yang jauh-jauh datang dari Praha, Republik Ceko, hihihiiiii. *pamer* *blushing*


# Ranu Pane

Desa yang terletak di ketinggian 2200 mdpl di wilayah administratif Kab. Lumajang ini adalah gerbang masuk utama (dan satu-satunya) pendakian ke Gunung Semeru. Disini, setiap pendaki wajib melengkapi kelengkapan proses administrasi di pos petugas di bawah kepengurusan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Dua dokumen utama yang perlu dipersiapkan adala fotokopi identitas diri (KTP/SIM bagi WNI, Passport/KITAS untuk WNA), dan surat keterangan sehat dari dokter. Selain itu, pendaki juga diharuskan menandatangi surat perjanjian yang menyatakan persetujuan bahwa TNBTS bertanggung jawab hanya sampai Kalimati. Lewat dari itu, keselamatan jiwa menjadi tanggung jawab masing-masing individu.

Kabut pagi di Ranu Pane © Jiří Sedláček (2014)

Perlu diketahui bahwa pendakian ke Semeru tidak semudah seperti yang dipertontonkan di film 5 cmPerlu persiapan fisik dan mental yang memadai karena medan yang akan dilalui cukup berat (apalagi untuk pendaki pemula) ditambah lagi dinginnya suhu udara yang bisa mencapai beberapa minus derajat celcius. Ransel yang dibawa nggak akan sekempes yang dibawa oleh para tokoh di film yang mengadaptasi novel berjudul sama itu. Kecuali kalau kalian sewa tenaga porter lho yaaa.


Di depan pos registrasi TNBTS © Jiří Sedláček (2014)

Sebelum memulai pendakian, petugas akan memeriksa kelengkapan logistik masing-masing pendaki. Perhatian khusus diberikan sleeping bag karena dinginnya suhu di Semeru acap kali memacu terjadinya hypothermia (kehilangan panas tubuh) yang bisa membuat pendaki kehilangan nyawanya. Selain itu, sangat disarankan bagi para pendaki untuk beristirahat/bermalam di Ranu Pane. Hal tersebut diperuntukkan untuk aklimatisasi, yaitu proses tubuh dalam menyesuaikan diri secara bertahap terhadap perubahan lingkungan khususnya terhadapap perubahan temperatur dan tekanan udara. Pendaki dapat membuka tenda di tanah lapang atau menyewa kamar di penginapan yang ada di dekat areal pos pendaftaran.

Ready to start hiking © Jiří Sedláček (2014)


# Ranu Kumbolo

Perjalanan dari Ranu Panu menuju Ranu Kumbolo berjarak tempuh sekitar 7 km. Kami, dengan 'jalan-jalan santai', berhasil melipir punggungan yang membelah hutan tropis ini dalam waktu 5 jam. Setibanya kami disana, lokasi  ini sudah dipadati oleh tenda-tenda beraneka warna milik para pendaki Gunung Semeru baik yang beranjak naik maupun turun.



Bersama pacar menuju Ranu Kumbolo :)

Ranu Kumbolo merupakan sebuah sumber mata air yang disakralkan oleh pemeluk agama Hindu. Airnya dapat diambil sebagai air minum dan untuk keperluan memasak. Namun tidak diperkenankan bagi para pendaki untuk mencemarinya dengan sampah dalam bentuk apapun. Pendaki harus melepas alas kaki saat ingin mencelupkan kaki di danau itu. Nyemplung dan berenang seperti yang dipertontonkan di film 5 cm jelas-jelas adalah hal yang tidak patut ditiru. Selain karena dapat mencemari danau, hal tersebut juga dapat membahayakan nyawa. Pernah ada kejadian, pendaki tenggelam dikarenakan melakukan hal tersebut.


Perkampungan tenda di Ranu Kumbolo © Jiří Sedláček (2014)

Ranu Kumbolo dengan hamparan langit malamnya yang luar biasa indah juga menjadi salah satu destinasi astrophotography expedition. Bintang-bintang bertaburan dengan indahnya. Dengan menggunakan aplikasi Google Map, saya dan pacar coba membaca rasi bintang yang ada. Hanya Ursa Major (beruang besar) yang dapat kami kenali. Hujan meteor pun sesekali terjadi. Sayang kemampuan fotografi dan kamera kami belum mampu mengabadikan indahnya langit Ranu Kumbolo di malam itu.

Anyway, di waktu dan bulan tertentu milky way dapat dilihat dengan mata telanjang juga lho di Ranu Kumbolo. Klik disini untuk mendapatkan panduan dalam memburu milky way.


# Tanjakan Cinta

Tanjakan cinta merupakan jalan setapak untuk mendaki sebuah bukit yang letaknya persis setelah Ranu Kumbolo menuju Oro-Oro Ombo. Bukit ini memiliki kemiringin sekitar 45 derajat sehingga tidak bisa dikatakan cukup mudah unduk didaki.

Terdapat sebuah mitos yang melegenda tentang tempat ini. Konon, apabila kita memikirkan seseorang yang kita sayangi sembari mendaki tanjakan ini tanpa sedikitpun menoleh ke belakang, maka orang tersebut akan menjadi jodoh kita. Banyak teman saya yang mencoba mitos itu. Ada beberapa pula (khususnya yang  masih galau atau bahkan bercita-cita untuk berpoligami :P)  mencoba menaiki dan meuruni bukit ini lebih dari sekali.

Bersama pacar sebelum menaiki tanjakan cinta

Saya sendiri manaiki tanjakan ini sembari berpegangan tangan dengan pacar saya. Teman-teman kami kontan bersorak. Mereka menggoda kami dan memanggil-manggil nama kami. Namun kami berdua berhasil saling mengingatkan untuk tidak sekalipun tergoda untuk menoleh ke belakang. Barulah saat benar-benar mencapai bukit itu kami menoleh ke belakang. Cantiknya Ranu Kumbolo menjadi hadiah tersendiri bagi kami.

# Oro-Oro Ombo

Selepas ngos-ngosan mendaki tanjakan cinta, mata kami dimanjakan oleh cantiknya hamparan karpet ungu seluas kurang lebih 20 hektar yang melapisi sabana bernama Oro-oro Ombo. Hamparan tersebut terbentuk dari barisan tanaman setinggi 1.5 sampai dengan 2.0 meter bernama latin Verbena Brasiliensis Vell* yang sedang mekar-mekarnya di bulan Mei dan Juni. Ungunya sabana dipadu dengan kuning kehijaunannya perbukitan menjadikan lanskap disini tidak kalah cantik dengan padang lavender di Provence, Perancis.

*Dibalik kecantikannya ternyata tanaman ini justru mencemaskan karena ia merupakan tanaman asing yang bersifat invansif sehingga bisa menggusur rerumputan dan alang-alang yang merupakan tanaman asli TNBTS. Referensi lebih lanjut klik disini.


Strolling at Oro - Oro Ombo

# Kalimati

Perjalanan dari Ranu Kumbolo ke Kalimati dapat ditempuh dalam waktu 5 - 7 jam. Rombongan kami tiba disana pada sekitar pukul 4 sore. Lokasi ini merupakan areal perkemahan kedua setelah Ranu Kumbolo. Kami beristirahat disini untuk mengisi ulang energi dan persediaan air minum kami sebelum memulai perjalanan kami menuju puncak, tengah malam nanti. Saat berada di area ini, sangat disarankan bagi para pendaki untuk mengenakan masker karena hujan abu vulkanik intens terjadi.

© Jiří Sedláček (2014

Kalimati juga menjadi batas akhir dimana pihak TNBTS memperbolehkan pengunjung untuk mendaki Gunung Semeru. Mulai dari lokasi ini, keselamatan jiwa dari dan menuju Mahameru menjadi tanggung jawab masing-masing individu. Hal tersebut secara tegas tercantum dalam surat perjanjian yang harus ditandatangani di atas materai saat melakukan registrasi pendakian.

# Mahameru

Rombongan kami mulai pendakian ke puncak pada pukul 11 malam dan tiba di Mahameru pada sekitar pukul 8 pagi. Trek ini sangat berbahaya dikarenakan curamnya lereng yang didominasi oleh pasir, gravel dan batuan lepas. Ungkapan 1 langkah naik, 2 kali merosot benar-benar terasa. Disinilah mental kita benar-benar diuji. Menginjak batu seberapapun terlihat kokohnya batu itu justru menjadi sangat berbahaya karena apabila batu itu terlepas bukan hanya kita terperosok namun pendaki di bawah kita terancam mendapat luka akibat terhantam batu itu.  

Bersama Sahabat Ants di Mahameru

Begitu tiba di Mahameru haru-biru membasuh dada. Kami semua berpelukan. Ada rasa puas dan bangga terukir di setiap wajah kami dan wajah-wajah pendaki lainnya yang ada disana. Mahameru benar-benar meluruhkan angkuhnya segala rasa di hati. Tak sedikit dari kami menumpahkan air mata sembari bersujud syukur pada Sang Pencipta atas segala nikmat dan kuasa-Nya. 

--//selesai///--

Catatan:

  • Dari Tumpang, Kab. Malang, ada beberapa cara menuju Ranu Pane. Yang paling umum digunakan adalah menyewa truk atau jeep. Harga sewa jeep berkisar antara Rp. 500.000,00 sampai dengan Rp. 600.00,00. Sedangkan untuk sewa truk, setiap orang dikenakan tarif sebesar Rp. 40.000,00 per orang. Perjalanan akan memakan waktu sekitar 2 - 3 jam, tergantung dari kemampuan sang pengemudi.
  • Sedangkan tarif sewa jeep dari Cemoro Lawang ke Ranu Pane berkisar antara Rp. 400.000,00 sampai dengan Rp. 600.000,00. Saya pribadi, bersama pacar, menyewa ojek dengan tarif sebesar Rp. 150.000,00 per orang. 
  • Tarif masuk TNBTS bai wisatawan lokal adalah sebesar Rp. 37.500,- per hari di hari biasa dan Rp. 67.500,00 di hari libur. Sedangkan untuk wisataawan asing dikenakan tarif sebesar Rp. 207.500,00 per hari untuk hari biasa dan Rp. 307.500,00 per hari untuk hari libur.